Rabu, 04 April 2018

Tujuan China Buat Terowongan Angin Tercepatdi Dunia

Tujuan China Buat Terowongan Angin Tercepatdi Dunia

China terus berambisi besar di bidang sains. Selain ingin menjadi yang pertama mendarat di sisi jauh bulan dan membangun stasiun luar angkasa sendiri, kini China ingin membangun terowongan angin hipersonik terkuat dalam sejarah pada 2020.

Terowongan yang panjangnya 265 meter ini akan bisa memproduksi kecepatan hipersonik dengan meledakkan campuran oksigen, hidrogen, dan nitrogen.

Rencananya, terowongan akan digunakan untuk menguji pesawat pada kecepatan angin yang 10 kali lipat dari terowongan angin biasa atau kecepatan terbang hingga Mach 25 (25 kali kecepatan suara atau 30.625 kilometer per jam).

Perlu Anda ketahui, pesawat tercepat yang ada sekarang hanya mampu mencapai Mach 3 atau 14 jam untuk jarak tempuh New York ke Beijing. Namun, dengan kecepatan Mach 25, jarak yang sama akan bisa diselesaikan dalam waktu 20 menit.

Kalaupun pesawat yang ingin diuji China bisa mencapai kecepatan Mach25, pertanyaannya adalah mampukah tubuh pesawat bertahan untuk tidak terbakar pada kecepatan tersebut? Inilah yang ingin dijawab negara tersebut melalui terowongan angin hipersonik.

Han Guilai, seorang peneliti di Chinese Academy of Sciences, mengatakan kepada media pemerintah China Xinhua, terowongan baru ini akan membantu aplikasi teknik dari teknologi hipersonik dengan menduplikasik lingkungan penerbangan hipersonik yang ekstrem.

“Begitu masalahnya diketahui dalam uji coba ini, mereka akan dibetulkan sebelum uji terbang yang sebenarnya dilaksanakan,” katanya.

Misil hipersonik

Selain untuk menguji pesawat, terowongan angin hipersonik juga akan membantu merealisasikan misil super cepat.

Lima kali lipat lebih cepat dari suara, senjata hipersonik bisa menghindari pertahanan anti-misil yang ada karena perubahan arah yang tidak bisa diprediksi dan ketinggian yang luar biasa.

Sejauh ini, beberapa negara telah dilaporkan sedang mengembangkan senjata hipersonik.

Amerika Serikat dan Australia, misalnya, dilaporkan oleh The Drive, 13 Juli 2017, sedang menguji coba roket prototipe yang bsia mencapai Mach 7,5.

Sementara itu, China sendiri dilaporkan oleh Popular Mechanics, 29 Desember 2017, sudah selesai menguji misil DF-17 yang bisa mencapai kecepatan hipersonik.

0 komentar:

Posting Komentar